Terapi Autisme

7 May

Kata autis berasal dari bahasa Yunani “auto” berarti sendiri yang ditujukan pada seseorang yang menunjukkan gejala “hidup dalam dunianya sendiri”. Pada umumnya penyandang autisme mengacuhkan suara, penglihatan ataupun kejadian yang melibatkan mereka. Jika ada reaksi biasanya reaksi ini tidak sesuai dengan situasi atau malahan tidak ada reaksi sama sekali. Mereka menghindari atau tidak berespon terhadap kontak sosial (pandangan mata, sentuhan kasih sayang, bermain dengan anak  lain dan sebagainya).

Menurut buku Diagnostics and Statistical Manual of Mental Disorders-Fourth Edition (DSM-IV) gangguan autistik adalah gangguan perkembangan pervasif yang ditandai dengan adanya ketidaknormalan atau hambatan dalam interaksi sosial, komunikasi dan adanya perilaku dan minat yang terbatas dan berulang. Manifestasi gangguan ini bervariasi tergantung pada tingkat perkembangan dan usia kronologis individu. Biasanya gejala gangguan autistik sudah mulai tampak pada saat anak berusia di bawah tiga tahun.

Gangguan autis dapat ditandai dengan tiga gejala utama, yaitu gangguan interaksi sosial, gangguan komunikasi, dan gangguan perilaku. Gangguan perilaku dapat berupa kurangnya interaksi sosial, penghindaran kontak mata, serta kesulitan dalam bahasa.

Gangguan autis pada anak-anak memperlihatkan ketidakmampuan anak tersebut untuk berhubungan dengan orang lain atau bersikap acuh terhadap orang lain yang mencoba berkomunikasi dengannya. Mereka seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri, bermain sendiri, dan tidak mau berkumpul dengan orang lain. Namun, anak autis biasanya memiliki kelebihan atau keahlian tertentu, seperti pintar menggambar, berhitung atau matematika, musik, dan lain-lain.

Penyebab autis sejauh ini belum diketahui dengan pasti, namun diduga kuat berkaitan dengan faktor keturunan, khususnya hubungan antara ibu dan janin selama masa kehamilan.

Autis dapat terjadi pada semua kelompok masyarakat kaya miskin, di desa di kota, berpendidikan maupun tidak serta pada semua kelompok etnis dan budaya di dunia. Sekalipun demikian anak-anak di negara maju pada umumnya memiliki kesempatan terdiagnosis lebih awal sehingga memungkinkan tatalaksana yang lebih dini dengan hasil yang lebih baik.

Kriteria diagnostik untuk gangguan autistik

WHO telah merumuskan kriteria yang harus dipenuhi untuk dapat menegakkan diagnosis gangguan autistik, yaitu ICD-10 (International Classsification of Disease) 1993. Rumusan diagnostik lain yang juga dipakai di seluruh dunia untuk menjadi panduan diagnosis gangguan autistik adalah DSM-IV (Diagnostik and Statistical Manual) 1994. Isi dari kedua kriteria diagnostik ini pada dasarnya sama.

Diagnosis ganggguan autistik dapat ditegakkan dari gejala-gejala yang tampak yang menunjukkan adanya penyimpangan dari perkembangan yang normal sesuai umur anak.Untuk itu penting bagi kita untuk mengetahui parameter perkembangan normal pada anak usia 1 hingga 5 tahun.

Meskipun kriteria diagnosis telah dijabarkan, kesalahan diagnosis masih sering terjadi. Ini disebabkan oleh sering terdapatnya gangguan atau penyakit lain yang menyertai gangguan autistik, misalnya hiperaktifitas, epilepsi, retardasi mental, atau Down Syndrome. Seringkali perhatian terlalu tertuju pada gangguan penyerta sehingga gangguan autistik sendiri luput didiagnosa.

Intervensi Perilaku terhadap anak autistik

Salah satu metode intervensi perilaku untuk mengajar anak autistik adalah Applied Behaviour Analysis (ABA). Pendekatan ini merupakan hasil penelitian panjang dari Dr. Ivar Lovaas dan rekannya di UCLA,Amerika. Metode ABA banyak digunakan karena metode ini terstruktur dengan teknik yang jelas, terarah dan terukur, dimana perilaku yang diharapkan dari anak dapat dilihat secara langsung. Tingkat kemampuan anak autistik yang diharapkan dapat tercapai selama terapi perilaku, yaitu:

– Kebiasaan bekerja, regulasi diri,
Sikap kerja anak setiap kali diberi tugas,dan bagaimana dia mengembangkan kontrol serta strategi setiap menghadapi stress,

– Menolong diri, kemandirian,
Kemampuan anak membantu dirinya sendiri dan bersikap mandiri sesuai dengan usia tahap perkembangannya,

– Komunikasi fungsional,
Kemampuan untuk menjawab pertanyaan secara konsisten dan kontekstual, menyampaikan keinginan, perasaan dan pendapat.

Setelah anak dapat menguasai keahlian pada piramida bagian bawah, anak diharapkan sudah mampu bersekolah atau mengerjakan pekerjaan sekolah dan akhirnya mampu melakukan komunikasi dua arah secara verbal dan nonverbal. Terapi dengan metode ABA bersifat intensif yaitu 30-40 jam setiap minggunya selama dua tahun.

Terapi ABA bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup anak autistik sehingga mereka dapat mengembangkan potensi yang mereka miliki secara maksimal. Namun faktor biaya kerap kerap menjadi kendala bagi orang tua anak autistik untuk membawa anaknya ke pusat terapi. Hal ini perlu mendapat perhatian dari semua pihak seperti pemerintah,organisasi non pemerintah nasional atau internasional dan juga masyarakat.

Parameter Perkembangan Normal Anak

Usia 1-2 tahun:

  1. Merangkak anak tangga
  2. Menumpuk dua atau tiga benda
  3. Menunjuk untuk menyatakan keinginannya
  4. Mengikuti petunjuk sederhana
  5. Memegang pensil warna dan membuat garis
  6. Menaruh benda dalam wadah
  7. Mengguncangkan benda keluar dari wadah
  8. Melempar benda keluar dari wadah
  9. Mengikuti perintah sederhana
  10. Menyebutkan nama benda sederhana, misalnya bola, rumah
  11. Mulai berlari
  12. Mampu mengingat gambar satu benda
  13. Mengobrak-abrik laci, keranjang baju, dan wadah lain karena ingin tahu
  14. Duduk dengan diam mendengar cerita sederhana
  15. Melempar bola ke arah orang lain
  16. Menendang bola
  17. Berjalan mundur

Usia 2-3 tahun:

  1. Membuka dan menutup pintu
  2. Berlari dengan baik
  3. Senang dengan memanjat
  4. Menuruni anak tangga satu demi satu dengan kaki yang sama secara perlahan
  5. Menumpuk benda lebih tinggi (enam benda atau lebih)
  6. Menggunakan pensil warna untuk membuat tulisan cakar ayam
  7. Dapat melipat kertas bila dicontohkan lebih dulu
  8. Mencoba memakai dan mencopot baju sendiri
  9. Menggunakan dua kata atau lebih ketika berbicara
  10. Mulai senang mendengarkan cerita bergambar
  11. Melompat dari tempat yang lebih tinggi
  12. Ikut aktif dalam permainan
  13. Ikut membereskan mainan
  14. Hafal nama lengkapnya
  15. Tahu jenis kelaminnya
  16. Tahu berapa umurnya
  17. Meniru tingkah laku dan suara
  18. Berdiri seimbang di atas satu kaki untuk beberapa saat
  19. Mengerti konsep sederhana (misal: atas/bawah, panas/dingin, kecil/besar, buka/tutup)
  20. Terlibat dalam permainan yang membutuhkan konsentrasi (memilah, memasangkan).

Usia 3-4 tahun:

  1. Naik turun tangga dengan kaki kiri dan kanan bergantian
  2. Mencoba mencontohkan beragam bentuk yang tergambar (lingkaran, kotak, segitiga, segiempat, oval)
  3. Memasang dan mencopot sepatu
  4. Menghitung satu sampai empat benda yang sama
  5. Mengulang sedikitnya tiga benda terakhir yang berurutan disebutkan
  6. Mampu menceritakan kembali atau mengingat cerita sederhana atau pengalaman
  7. Bermain permainan individu sederhana di antara teman lain
  8. Mencopot kancing baju sendiri
  9. Mengendarari sepeda roda tiga (koordinasi tampak baik)
  10. Berbicara kalimat pendek dan sederhana
  11. Tampak mengerti aturan bermain
  12. Bermain lompat kaki
  13. Memotong dengan arahan
  14. Mengenal delapan warna dasar
  15. Memecahkan persoalan (tenggelam/mengambang, mur/baut, bermain puzzle)
  16. Mengenal bentuk lingkaran, kotak, segitiga, segiempat dan oval
  17. Mengenal beberapa huruf abjad
  18. Mampu berjalan seimbang pada titian sempit
  19. Menyelesaikan perintah sederhana
  20. Melompat satu kaki dengan teknik yang indah sempurna.

Usia 4-5 tahun:

  1. Latihan buang air
  2. Makan dengan sendok dan garpu
  3. Duduk tenang untuk beberapa saat
  4. Senang bila mendengarkan cerita
  5. Memakai jaket sendiri tanpa bantuan
  6. Mampu mengancingkan jaket sendiri
  7. Mampu memakai sepatu sendiri dengan benar
  8. Membereskan mainan bila diminta
  9. Senang berada di antara orang lain
  10. Memperhatikan dan merawat barangnya sendiri
  11. Berbagi dan mau bergiliran
  12. Biasanya menerima apa yang dibatasi oleh orang tua
  13. Berbagi perhatian orang tua dengan saudara
  14. Mengikuti petunjuk sederhana
  15. Berkunjung ke kerabat orang lain tanpa orang tua untuk waktu yang pendek
  16. Mampu menyebut nama lengkap dirinya
  17. Mengerti konsep sederhana (besar/kecil, keluar/masuk, naik/turun, buka/tutup)
  18. Mengenali benda yang biasa di temui di rumah
  19. Memperlihatkan kesan diri yang positif
  20. Bertanya untuk memperoleh informasi
  21. Mengerti konsep angka (1-5)
  22. Mengenali suara-suara yang biasa ada di rumah
  23. Menceritakan pengalamannya
  24. Menyebutkan kegunaan benda yang biasa ditemui di rumah, misalnya jaket dipakai, pisang dimakan
  25. Mengenali delapan warna dasar
  26. Mengenali huruf dan suara
  27. Mampu mengingat/mengulang dua atau tiga benda berlainan dalam konsep yang sama, misalnya (5,7,9), (merah, biru, kuning), (g,b,d)
  28. Melompat dua atau tiga kali dengan satu kaki dalam satu garis
  29. Mampu menangkap bola yang besar
  30. Mampu berlari atau berhenti dengan perintah
  31. Mampu menggambar gambar sederhana
  32. Mampu membedakan bentuk-bentuk yang berlainan
  33. Mampu mencontohkan gambar lingkaran atau kotak
  34. Berdiskusi cerita yang didengar atau dilihat di TV
  35. Memilih objek atau gambar yang hampir sama
  36. Memperlihatkan keinginannya untuk bersekolah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: