Archive | March, 2013

Paralisis Erb-Duchene

24 Mar
1. Pengertian
Kerusakan cabang-cabang C5 – C6 dari pleksus biokialis menyebabkan kelemahan dan kelumpuhan lengan untuk fleksi, abduksi, dan memutar lengan keluar serta hilangnya refleks biseps dan moro. Lengan berada dalam posisi abduksi, putaran ke dalam, lengan bawah dalam pranasi, dan telapak tangan ke dorsal.
erb
Gambar.
Sikap lengan kiri yang paralitik (erb)
2. Etiologi
Pada trauma lahir Erb, perlu diperhatikan kemungkinan terbukannya pula serabut saraf frenikus yang menginervasi otot diafragma. Pada trauma yang ringan yang hanya berupa edema atau perdarahan ringan pada pangkal saraf, fiksasi hanya dilakukan beberapa hari atau 1 – 2 minggu untuk memberi kesempatan penyembuhan yang kemudian diikuti program mobilisasi atau latihan. Secara klinis di samping gejala kelumpuhan Erb akan terlihat pula adanya sindrom gangguan nafas.
Kelumpuhanmenyangkut :
M.supraspinatus,  M.infraspinatus,  M.subscapularis, M.teres mayor, M.biseps brachialis,  M.brachialis  dan  M.brachioradialis
3. Patofisiologi
-Ketika persalinan,
-Saat kepala sudah muncul,
-Untuk melahirkan bahu kepala perlu dilakukan lateral flexy.
-Bagi bayi yang tidak terlalu gemuk, ketika  lateral flexy, bahu dapat dilahirkan. pada bayi yang terlalu besar (mis. diabetes), maka saat menarik diperlukan menambah lateral flexi dan tambahan tenaga, hal ini akan berdampak pada  plexus brachialis, yaitu mengalami stretching.
* Inilah yang menyebabkan terjadinya Erb’s palsy.

erb 426212W

Jenis trauma pada pleksus brachialis yang  mengkibatkan Erb’  palsy:

– Avulsi,
  penyebab terbanyak lesi pleksus. Kondisi    ini saraf sobek sampai ke medula spinalis.
– Ruptur,
  seperti avulsi tetapi tidak mengenai medula spinalis.
– Neuroma,
  lesi ini membentuk jaringan parut dan akhirnya  akan menekan pleksus brakialis.
– Neurapraxia/stretch,
  terjadi lesi tanpa sobekan. sembuh sendiri dalam 3 bulan dengan fungsi yang  hampir normal.
4. Penatalaksanan

Penanganan terhadap trauma pleksus brakialis ditujukan untuk mempercepat penyembuhan serabut saraf yang rusak dan mencegah kemungkinan komplikasi lain seperti kontraksi otot. Upaya ini dilakukan antara lain dengan jalan imobilisasi pada posisi tertentu selama 1 – 2 minggu yang kemudian diikuti program latihan. Pada trauma ini imobilisasi dilakukan dengan cara fiksasi lengan yang sakit dalam posisi yang berlawanan dengan posisi karakteristik kelumpuhan Erb. Lengan yang sakit difiksasi dalam posisi abduksi 900 disertai eksorotasi pada sendi bahu, fleksi 900.
5. Pengobatan
– Obat
☻Vitamin B1,B6,B12,E
☻Antiedema
☻Vasodilator
☻Corticosteroid
☻Danzen (Takeda)
☻Papase (Warner-Lambert)
☻Neurobion (E.Merck)
☻Fundamine-E (Biomedis)
☻Enico (Eisai)
Sebaiknya konsulkan dulu kepada dokter ahli.
– Fisioterapi :
  • Latihan ROM

1shoulderflexion

2shoulderabduction3shoulderrotation4supination5elbowflexion6wristadduction7fingerflexion8fingeradduction

  • Alat – alat
    -Terapi panas (IRR)

3.  Operasi

5. Saran dan Larangan
  • Saran
* Peran aktif orang tua sangat dibutuhkan dalam terapi
* Konsultasi pada dokter khususnya bagi orang-orang beresiko tinggi

  • Larangan
* Pembidaian tidak dianjurkan
Sumber :

Baby of the Month

18 Mar

Nama : Danielle

Gender : Female

Score : Excelent

Bolehkah Bayi Mandi Air Dingin?

16 Mar

KOMPAS.com – Para orang tua biasanya agak takut untuk memandikan bayi mereka dengan air dingin. Padahal menurut dr Atilla Dewanti, SpA, dari Brawijaya Women and Children Hospital, pada usia tertentu anak-anak sudah harus diajarkan untuk mandi dengan air dingin. Mandi air dingin bisa membantu anak memiliki daya tahan lingkungan yang lebih kuat, dan juga menyegarkan tubuhnya.

Sebenarnya tidak ada aturan khusus kapan harus memperkenalkan anak pada air dingin. Hanya saja, Anda harus memperhatikan kondisi fisik si kecil sebelum memandikannya dengan air dingin.

2

Idealnya, bayi diperkenalkan dengan air dingin mulai usia enam bulan. Di usia ini, fisiknya sudah dinilai sempurna, dan daya tahan tubuhnya sudah kuat untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Hanya saja, pastikan si kecil benar-benar dalam kondisi yang sehat. Proses memandikan dengan air dingin pun sebaiknya dilakukan maksimal 15-20 menit saja.

“Bayi berusia dua bulan juga sudah bisa mandi air dingin, hanya saja mulai dengan perlahan-lahan, jangan langsung semuanya air dingin,” jelas dr Atilla.

Namun ia menambahkan, bayi yang dinilai siap mandi air dingin di usia dua bulan juga memiliki beberapa kondisi, antara lain ketika lahir harus dalam kondisi normal dan sehat. Bayi paling tidak memiliki umur kelahiran sembilan bulan dengan berat minimal 2,5 kg.

Lain soalnya jika si kecil lahir dalam kondisi prematur. Jika lahir prematur sebaiknya jangan memandikan bayi dengan air dingin di usia dua bulan. “Kulit bayi prematur lebih tipis dan butuh waktu yang lebih lama untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya,” tukasnya. Hal ini dikhawatirkan akan menyebabkan bayi mengalami hipotermia (kedinginan) dan berakibat menghambat tumbuh kembangnya.

Cara membiasakan anak untuk mandi air dingin dengan mengurangi kehangatan air mandi dari hangat, agak hangat, agak dingin sd dingin. Agar anak tidak kaget mulai dari siram-siram kaki dan tangan terlebih dahulu baru menyiram badannya.

Mandikanlah sehari dua kali, gunakan sabun bayi dan cuci rambut dengan sampo bayi. Perlakukan bayi sebagaimana layaknya Anda sebagai orang sehat mandi dan mencuci rambut. Mandi dengan air hangat tujuannya terutama agar bayi tak kedinginan atau hipotermi dalam bahasa kedokterannya. Namun, sebagai bayi normal yang sehat, bayi Anda dapat beradaptasi dengan keadaan tersebut. Jadi, tak usah takut memandikan si kecil dengan air dingin selama kondisinya normal dan sehat serta dalam cuaca yang tak dingin.

Lalu, bagaimana dengan kepala bayi, bolehkah dibasahi saat mandi? Jika kepala bayi tak pernah dibasahi, kotoran di kepala jadi menumpuk dan bercampur dengan endapan lemak sehabis dilahirkan. Akibatnya, timbullah kerak kepala yang sering disebut sarapen atau dalam istilah medisnya, dermatitis seboroik.

Jadi, gak perlu takut lagi nih untuk Spa menggunakan air dingin^^

 

 

Sumber: http://female.kompas.com

Conginetal Talipes Equinus Varus (CTEV)

15 Mar

Definisi:

CTEV adalah suatu kondisi di mana kaki pada posisi :

  1. Plantar flexi talocranialis karena m. Tibialis anterior lemah.
  2. Inversi ankle karena m. Peroneus longus, brevis dan tertius lemah.
  3. Adduksi subtalar dan midtarsal.

Jadi dapat disimpulkan bahwa CTEV adalah suatu penyakit bawaan (congenital) yang mengenai bagian ankle kaki yang membuat tumit lebih tinggi dan terjadi deviasi ke medial.

Jadi telapak kaki menghadap ke dalam dan lutut varus.

Klasifikasi :
1. EASY CASE / FLEKSIBEL :

  • Dimana tes belum terjadi kekakuan pada sendi
  • Akan banyak berhasil denga terapi konservatif (manipulasi, strapping, plastering)

2. RESISTANT CASE/RIGID :

  • Pada dorsofleksi tes poluz tidak dapat ditekuk pada crista tibia
  • Sulit dikoreksi secar konservatif
  • Masih terdapat deformitas walaupun koreksi telah dilakukan berbulan bulan.
ETIOLOGI :

  1. Semasa kehamilan, ibu mengalami kekurangan kalsium.
  2. Usia kandungan 7-8 bulan terjadi trauma.
  3. Infeksi virus polio.

CTEV ada dua macam, yaitu :

  1. Struktural, disebabkan oleh tulang yang berubah.
  2. Postural, disebabkan oleh jaringan lunak yaitu otot mengalami layuh satu sisi. Penyebab layuh adalah APM ( Anterior Polio Myelitis )
Gambaran CTEV :

  • m.Tibialis anterior——————————- over stretch
  • m.Peroneus longus, brevis dan tertius———– over stretch
  • m.Gastroc————————————— contractur
  • m.Soleus—————————————- contractur
  • m.Tibialis posterior—————————— contrctur
  • otot-otot Plantar flexor lainnya—————— contractur
 TERAPI :

  1. Jika penyebabnya berupa kontraktur, maka diberikan stretching, jika tidak bisa baru menggunakan orthopet.
  2. Jika terjadi karena struktural atau sudah di kondisi struktural, maka penanganannya dengan orthopet.

a3

DSCI0123

Sepatu Orthopedi
 Terapi yang sangat dini akan dapat mencegah atau mengurangi gejala-gejala timbul. Untuk menentukan jenis terapi atau latihan yang diberikan dan untuk menentukan keberhasilannya maka perlu diperhatikan penggolongan CTEV berdasarkan klasifikasinya. Tujuan terapi pasien CTEV adalah membantu pasien dan keluarganya memperbaiki fungsi gerak dan mencegah terjadinya kecacatan sedini mungkin sehingga diharapkan penderita bisa mandiri. Untuk pasien yang telah dewasa, CTEV bisa dikoreksi dengan operasi osteotomi, yaitu dengan mengangkat tulang Talus. Namun tindakan operasi ini, pasien cenderung akan mengalami drop foot oleh karena m. Tibialis anterior yang terlalu lama terulur dan tidak pernah digunakan.

Read more:

Terapi untuk anak Dispraksia

7 Mar

kids education

Dispraksia berasal dari kata “Dys” yang artinya tidak mudah atau sulit dan “praxis” yang artinya bertindak, melakukan. Nama lain Dispraksia adalah Development Co-ordination Disorder (DCD), Perceptuo-Motor Dysfunction, dan Motor Learning Disability. Pada jaman dulu lebih dikenal dengan nama Clumsy Child Syndrome. Menurut penelitian, gangguan ini kadang diturunkan dalam keluarga dan gejalanya tumpang tindih dengan gangguan lain yang mirip misalnya disleksia.

Menurut penelitian secara medis, dispraksia adalah gangguan atau ketidakmatangan anak dalam mengorganisir gerakan akibat kurang mampunya otak memproses informasi sehingga pesan-pesan tidak secara penuh atau benar ditransmisikan. Dispraksia mempengaruhi perencanaan apa-apa yang akan dilakukan dan bagaimana melakukannya. Hal ini menyebabkan timbulnya kesulitan dalam berpikir, merencanakan dan melakukan tugas-tugas motorik atau sensori.

Menurut Belinda Hill, speech pathologist di Australian Dyspraxia Support Group and Resource Centre Inc. di New South Wales, dispraksia bukanlah gangguan yang terjadi pada otot dan gangguan kecerdasan walaupun akibatnya mempengaruhi kemampuan berbahasa dan pengucapan. Masalah dispraksia terjadi ketika otak mencoba memerintahkan untuk melaksanakan apa yang mesti dilakukan, namun kemudian sinyal perintah otak itu diacak sehingga otot tidak dapat membaca sinyal tersebut. Keluarga yang hidup dengan anak dispraksia sering kali biasanya tidak menyadari kondisi anak dengan segera. Hal ini menyebabkan anak dispraksia mempunyai kepercayaan diri yang rendah akibat gangguan yang dideritanya dan kekurangtahuan keluarga. Anak dispraksia juga rawan terhadap gangguan depresi serta mempunyai kesulitan dalam emosi dan perilaku.

Gejala-gejala Dispraksia

Pada bayi

Dispraksia sering ditandai dengan sedikit atau tidak adanya ocehan. Ketika mulai belajar bicara, huruf konsonan yang diucapkannya sangat sedikit.

Pada anak usia 3 – 5 tahun (usia pra sekolah)

–          Aktivitas motorik yang sangat tinggi termasuk mengayun-ayunkan kaki dan menghentak-hentakan kaki ketika duduk, bertepuk tangan atau menari.

–          Tangan mengembang ketika berlari.

–          Kesukaran mengayuh pedal sepeda roda tiga atau mainan serupa.

–          Ketrampilan motorik halus yang jelek, misal sukar memegang pensil atau menggunakan  gunting.

–          Kurang melakukan permainan yang imajinatif.

–          Mengalami kesulitan berbahasa yang terus menerus.

–          Respon terbatas pada instruksi lisan apa saja.

–          Terlambat berguling, merangkak, berjalan.

–          Sukar menyesuaikan diri saat beralih ke makanan padat.

–          Sukar melangkah, memanjat, menyusun puzzle, mempelajari ketrampilan baru secara insting dan lambat mengembangkan kata-kata.

–          Sulit berbicara dengan jelas dan kesulitan menggerakkan mata sehingga lebih suka menggerakkan kepalanya daripada menggerakkan matanya.

Adapun anak-anak yang menderita global dyspraxia dimana gejala-gejalanya adalah :

–          Pada saat bayi mengalami hipotonia yaitu dimana perkembangan sel-sel yang terlambat.

–          Mempunyai kontrol yang sangat lambat.

–          Mempunyai refleks menghisap yang sangat lemah seperti pada saat baru lahir, hal ini mungkin mengindikasikan   kesulitan pada saat menyusui.

–          Kemampuan untuk duduk yang sangat lambat.

–          Kemampuan berjalan yang sangat lambat.

–          General Clumsiness pada gross motor skills.

Terapi untuk Anak Dispraksia

Sebagai suatu sistem pendidikan untuk anak-anak dengan gangguan motorik, Conductive Education mengajarkan bagaimana untuk “break down” kemampuan dan ketrampilan yang mereka coba untuk ditampilkan. Dengan keberhasilan, keyakinan, dan kepercayaan diri yang meningkat, mereka dapat melatihnya dalam kehidupan sehari-hari.

Anak dispraksia kurang efektif jika dimasukkan dalam kelas khusus untuk anak-anak yang mengalami kesulitan belajar. Yang dibutuhkan oleh anak-anak dispraksia adalah terapi satu lawan satu yaitu suatu terapi dimana satu orang anak dispraksia ditangani oleh satu orang fisioterapis atau speech pathologist (terapi wicara Speech delay). Mereka butuh penanganan dan dukungan profesional secara teratur termasuk juga dukungan dari pendidikan yang dijalani.

Anak dispraksia biasanya dapat disembuhkan tergantung dari tingkat keparahannya. Ada kemungkinan kambuh beberapa kali tapi tingkat kesukaran dalam koordinasi gerakan akan semakin menurun. Anak juga bisa sembuh sendiri namun lebih lambat dan tidak seefisien jika ditangani oleh terapis.

Sumber: http://www.jurnal-fisioterapi.blogspot.com