Tag Archives: terapi autis

Fisiokid dan My Baby Hadir lagi!

2 Oct

Yoo modern momma! Jangan lupa dateng ke Promo My baby Bersama Fisiokid yah! Seperti biasa di Palembang Square Carrefour lt.2 . Jangan sampe ga dateng rugi ! Kapan lagi belanja produk bayi dikasih free massage oleh mbak2 cantik hehehe khusus baby lho ya! Catet tanggalnya , 1,2 sama 8,9 Oktober 2016 (week end only).
So mikir apa lagi? Buruan gih mampir ada doorPrize nya juga lhoo ūüėÄ
Supported by :
My Baby &

#baby spa palembang #fisioterapi anak palembang #terapi ABA palembang #pijat bayi #renang bayi palembang
Www.fisiokidtherapist.wordpress.com

No automatic alt text available.

Welcome to ASRI Center Fisioterapi dan Baby Spa di Palembang

28 Aug

Fasilitas Fisioterapi dan Baby Spa ASRI Center:

Couzy Lounge, ruang tunggu yang nyaman buat para famili yang menunggu

10617236_10202409460744724_743303697_n

 

Large Area for Baby Spa, ruang terapi yang luas menjamin kenyamanan saat melakukan baby spa di tempat kami

C360_2014-08-24-14-33-40-321

Private Class Room, Ruang kelas untuk belajar anak-anak berkebutuhan khusus di design se-efektif mungkin agar anak-anak dapat belajar dengan baik dan fokus demi mendapatkan hasil yang optimal.

10615661_10202412304095806_1517424084_n

Terutama untuk ruang fisioterapi di buat dengan mengedepankan kenyaman untuk pasien dalam melakukan terapi

10622302_10202412303655795_856444401_nC360_2014-08-24-14-30-59-94110585374_10202412303935802_1915591944_n

Come and join Us ASRI Center Fisioterapi dan Baby Spa di Palembang

Terapi untuk anak Dispraksia

7 Mar

kids education

Dispraksia berasal dari kata ‚ÄúDys‚ÄĚ yang artinya tidak mudah atau sulit dan ‚Äúpraxis‚ÄĚ yang artinya bertindak, melakukan. Nama lain Dispraksia adalah Development Co-ordination Disorder (DCD), Perceptuo-Motor Dysfunction, dan Motor Learning Disability. Pada jaman dulu lebih dikenal dengan nama Clumsy Child Syndrome. Menurut penelitian, gangguan ini kadang diturunkan dalam keluarga dan gejalanya tumpang tindih dengan gangguan lain yang mirip misalnya disleksia.

Menurut penelitian secara medis, dispraksia adalah gangguan atau ketidakmatangan anak dalam mengorganisir gerakan akibat kurang mampunya otak memproses informasi sehingga pesan-pesan tidak secara penuh atau benar ditransmisikan. Dispraksia mempengaruhi perencanaan apa-apa yang akan dilakukan dan bagaimana melakukannya. Hal ini menyebabkan timbulnya kesulitan dalam berpikir, merencanakan dan melakukan tugas-tugas motorik atau sensori.

Menurut Belinda Hill, speech pathologist di Australian Dyspraxia Support Group and Resource Centre Inc. di New South Wales, dispraksia bukanlah gangguan yang terjadi pada otot dan gangguan kecerdasan walaupun akibatnya mempengaruhi kemampuan berbahasa dan pengucapan. Masalah dispraksia terjadi ketika otak mencoba memerintahkan untuk melaksanakan apa yang mesti dilakukan, namun kemudian sinyal perintah otak itu diacak sehingga otot tidak dapat membaca sinyal tersebut. Keluarga yang hidup dengan anak dispraksia sering kali biasanya tidak menyadari kondisi anak dengan segera. Hal ini menyebabkan anak dispraksia mempunyai kepercayaan diri yang rendah akibat gangguan yang dideritanya dan kekurangtahuan keluarga. Anak dispraksia juga rawan terhadap gangguan depresi serta mempunyai kesulitan dalam emosi dan perilaku.

Gejala-gejala Dispraksia

Pada bayi

Dispraksia sering ditandai dengan sedikit atau tidak adanya ocehan. Ketika mulai belajar bicara, huruf konsonan yang diucapkannya sangat sedikit.

Pada anak usia 3 ‚Äď 5 tahun (usia pra sekolah)

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Aktivitas motorik yang sangat tinggi termasuk mengayun-ayunkan kaki dan menghentak-hentakan kaki ketika duduk, bertepuk tangan atau menari.

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Tangan mengembang ketika berlari.

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Kesukaran mengayuh pedal sepeda roda tiga atau mainan serupa.

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Ketrampilan motorik halus yang jelek, misal sukar memegang pensil atau menggunakan¬† gunting.

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Kurang melakukan permainan yang imajinatif.

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Mengalami kesulitan berbahasa yang terus menerus.

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Respon terbatas pada instruksi lisan apa saja.

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Terlambat berguling, merangkak, berjalan.

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Sukar menyesuaikan diri saat beralih ke makanan padat.

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Sukar melangkah, memanjat, menyusun puzzle, mempelajari ketrampilan baru secara insting dan lambat mengembangkan kata-kata.

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Sulit berbicara dengan jelas dan kesulitan menggerakkan mata sehingga lebih suka menggerakkan kepalanya daripada menggerakkan matanya.

Adapun anak-anak yang menderita global dyspraxia dimana gejala-gejalanya adalah :

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Pada saat bayi mengalami hipotonia yaitu dimana perkembangan sel-sel yang terlambat.

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Mempunyai kontrol yang sangat lambat.

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Mempunyai refleks menghisap yang sangat lemah seperti pada saat baru lahir, hal ini mungkin mengindikasikan¬†¬† kesulitan pada saat menyusui.

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Kemampuan untuk duduk yang sangat lambat.

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Kemampuan berjalan yang sangat lambat.

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† General Clumsiness pada gross motor skills.

Terapi untuk Anak Dispraksia

Sebagai suatu sistem pendidikan untuk anak-anak dengan gangguan motorik, Conductive Education mengajarkan bagaimana untuk ‚Äúbreak down‚ÄĚ kemampuan dan ketrampilan yang mereka coba untuk ditampilkan. Dengan keberhasilan, keyakinan, dan kepercayaan diri yang meningkat, mereka dapat melatihnya dalam kehidupan sehari-hari.

Anak dispraksia kurang efektif jika dimasukkan dalam kelas khusus untuk anak-anak yang mengalami kesulitan belajar. Yang dibutuhkan oleh anak-anak dispraksia adalah terapi satu lawan satu yaitu suatu terapi dimana satu orang anak dispraksia ditangani oleh satu orang fisioterapis atau speech pathologist (terapi wicara Speech delay). Mereka butuh penanganan dan dukungan profesional secara teratur termasuk juga dukungan dari pendidikan yang dijalani.

Anak dispraksia biasanya dapat disembuhkan tergantung dari tingkat keparahannya. Ada kemungkinan kambuh beberapa kali tapi tingkat kesukaran dalam koordinasi gerakan akan semakin menurun. Anak juga bisa sembuh sendiri namun lebih lambat dan tidak seefisien jika ditangani oleh terapis.

Sumber: http://www.jurnal-fisioterapi.blogspot.com

ASRI CENTER Grand Opening Event

12 Dec

cropped-bannerszz.jpg

Fisiokid therapist sekarang sedang dalam masa Promo Baby Spa di ASRI Center

alamat Jl. Kol H Burlian, Jl. Suka Bangun 2 ( Depan Punti kayu) Komp. Palm Indah Residence

( Jalan Menuju STAN Palembang)

Telah hadir dan manjakan buah hati anda di ASRI CENTER Baby Spa di palembang dan Fisioterapi

 baby spa palembang lokasi

 Layanan Fisioterapi umum

baby spa palembang 1

ASRI Center Melayani Pasien Fisioterapi Umum diantaranya, Rehab Medis Stroke, Rematik, Masalah otot dan alat gerak, cidera disebabkan olah raga, dll

Adapun jenis terapi yang mengharuskan penanganan husus yaitu :

1.  Terapi wicara (speak delay) , yang terdiri dari :

  • Paket pertama kali melakukan terapi : 16 kali terapi ( Intensif dilakukan setiap hari )
  • Paket lanjutan ( setelah bulan ke 2 dst ) : 8 kali terapi, 3-4 kali per-minggu ( tergantung hasil observasi therapist )

2. Terapi Autism, (Keterangan SDA)

Pastikan untuk mengenali dulu penyakit pada buah hati anda dengan konsultasi pada dokter ahli sebelum dibawa untuk melakukan therapi.

Untuk keterangan lebih lanjut silahkan hubungi kami : telp 0711 – 5468929

Terapi Autisme

7 May

Kata autis berasal dari bahasa Yunani “auto” berarti sendiri yang ditujukan pada seseorang yang menunjukkan gejala “hidup dalam dunianya sendiri”. Pada umumnya penyandang autisme mengacuhkan suara, penglihatan ataupun kejadian yang melibatkan mereka. Jika ada reaksi biasanya reaksi ini tidak sesuai dengan situasi atau malahan tidak ada reaksi sama sekali. Mereka menghindari atau tidak berespon terhadap kontak sosial (pandangan mata, sentuhan kasih sayang, bermain dengan anak¬† lain dan sebagainya).

Menurut buku Diagnostics and Statistical Manual of Mental Disorders-Fourth Edition (DSM-IV) gangguan autistik adalah gangguan perkembangan pervasif yang ditandai dengan adanya ketidaknormalan atau hambatan dalam interaksi sosial, komunikasi dan adanya perilaku dan minat yang terbatas dan berulang. Manifestasi gangguan ini bervariasi tergantung pada tingkat perkembangan dan usia kronologis individu. Biasanya gejala gangguan autistik sudah mulai tampak pada saat anak berusia di bawah tiga tahun.

Gangguan autis dapat ditandai dengan tiga gejala utama, yaitu gangguan interaksi sosial, gangguan komunikasi, dan gangguan perilaku. Gangguan perilaku dapat berupa kurangnya interaksi sosial, penghindaran kontak mata, serta kesulitan dalam bahasa.

Gangguan autis pada anak-anak memperlihatkan ketidakmampuan anak tersebut untuk berhubungan dengan orang lain atau bersikap acuh terhadap orang lain yang mencoba berkomunikasi dengannya. Mereka seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri, bermain sendiri, dan tidak mau berkumpul dengan orang lain. Namun, anak autis biasanya memiliki kelebihan atau keahlian tertentu, seperti pintar menggambar, berhitung atau matematika, musik, dan lain-lain.

Penyebab autis sejauh ini belum diketahui dengan pasti, namun diduga kuat berkaitan dengan faktor keturunan, khususnya hubungan antara ibu dan janin selama masa kehamilan.

Autis dapat terjadi pada semua kelompok masyarakat kaya miskin, di desa di kota, berpendidikan maupun tidak serta pada semua kelompok etnis dan budaya di dunia. Sekalipun demikian anak-anak di negara maju pada umumnya memiliki kesempatan terdiagnosis lebih awal sehingga memungkinkan tatalaksana yang lebih dini dengan hasil yang lebih baik.

Kriteria diagnostik untuk gangguan autistik

WHO telah merumuskan kriteria yang harus dipenuhi untuk dapat menegakkan diagnosis gangguan autistik, yaitu ICD-10 (International Classsification of Disease) 1993. Rumusan diagnostik lain yang juga dipakai di seluruh dunia untuk menjadi panduan diagnosis gangguan autistik adalah DSM-IV (Diagnostik and Statistical Manual) 1994. Isi dari kedua kriteria diagnostik ini pada dasarnya sama.

Diagnosis ganggguan autistik dapat ditegakkan dari gejala-gejala yang tampak yang menunjukkan adanya penyimpangan dari perkembangan yang normal sesuai umur anak.Untuk itu penting bagi kita untuk mengetahui parameter perkembangan normal pada anak usia 1 hingga 5 tahun.

Meskipun kriteria diagnosis telah dijabarkan, kesalahan diagnosis masih sering terjadi. Ini disebabkan oleh sering terdapatnya gangguan atau penyakit lain yang menyertai gangguan autistik, misalnya hiperaktifitas, epilepsi, retardasi mental, atau Down Syndrome. Seringkali perhatian terlalu tertuju pada gangguan penyerta sehingga gangguan autistik sendiri luput didiagnosa.

Intervensi Perilaku terhadap anak autistik

Salah satu metode intervensi perilaku untuk mengajar anak autistik adalah Applied Behaviour Analysis (ABA). Pendekatan ini merupakan hasil penelitian panjang dari Dr. Ivar Lovaas dan rekannya di UCLA,Amerika. Metode ABA banyak digunakan karena metode ini terstruktur dengan teknik yang jelas, terarah dan terukur, dimana perilaku yang diharapkan dari anak dapat dilihat secara langsung. Tingkat kemampuan anak autistik yang diharapkan dapat tercapai selama terapi perilaku, yaitu:

– Kebiasaan bekerja, regulasi diri,
Sikap kerja anak setiap kali diberi tugas,dan bagaimana dia mengembangkan kontrol serta strategi setiap menghadapi stress,

– Menolong diri, kemandirian,
Kemampuan anak membantu dirinya sendiri dan bersikap mandiri sesuai dengan usia tahap perkembangannya,

– Komunikasi fungsional,
Kemampuan untuk menjawab pertanyaan secara konsisten dan kontekstual, menyampaikan keinginan, perasaan dan pendapat.

Setelah anak dapat menguasai keahlian pada piramida bagian bawah, anak diharapkan sudah mampu bersekolah atau mengerjakan pekerjaan sekolah dan akhirnya mampu melakukan komunikasi dua arah secara verbal dan nonverbal. Terapi dengan metode ABA bersifat intensif yaitu 30-40 jam setiap minggunya selama dua tahun.

Terapi ABA bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup anak autistik sehingga mereka dapat mengembangkan potensi yang mereka miliki secara maksimal. Namun faktor biaya kerap kerap menjadi kendala bagi orang tua anak autistik untuk membawa anaknya ke pusat terapi. Hal ini perlu mendapat perhatian dari semua pihak seperti pemerintah,organisasi non pemerintah nasional atau internasional dan juga masyarakat.

Parameter Perkembangan Normal Anak

Usia 1-2 tahun:

  1. Merangkak anak tangga
  2. Menumpuk dua atau tiga benda
  3. Menunjuk untuk menyatakan keinginannya
  4. Mengikuti petunjuk sederhana
  5. Memegang pensil warna dan membuat garis
  6. Menaruh benda dalam wadah
  7. Mengguncangkan benda keluar dari wadah
  8. Melempar benda keluar dari wadah
  9. Mengikuti perintah sederhana
  10. Menyebutkan nama benda sederhana, misalnya bola, rumah
  11. Mulai berlari
  12. Mampu mengingat gambar satu benda
  13. Mengobrak-abrik laci, keranjang baju, dan wadah lain karena ingin tahu
  14. Duduk dengan diam mendengar cerita sederhana
  15. Melempar bola ke arah orang lain
  16. Menendang bola
  17. Berjalan mundur

Usia 2-3 tahun:

  1. Membuka dan menutup pintu
  2. Berlari dengan baik
  3. Senang dengan memanjat
  4. Menuruni anak tangga satu demi satu dengan kaki yang sama secara perlahan
  5. Menumpuk benda lebih tinggi (enam benda atau lebih)
  6. Menggunakan pensil warna untuk membuat tulisan cakar ayam
  7. Dapat melipat kertas bila dicontohkan lebih dulu
  8. Mencoba memakai dan mencopot baju sendiri
  9. Menggunakan dua kata atau lebih ketika berbicara
  10. Mulai senang mendengarkan cerita bergambar
  11. Melompat dari tempat yang lebih tinggi
  12. Ikut aktif dalam permainan
  13. Ikut membereskan mainan
  14. Hafal nama lengkapnya
  15. Tahu jenis kelaminnya
  16. Tahu berapa umurnya
  17. Meniru tingkah laku dan suara
  18. Berdiri seimbang di atas satu kaki untuk beberapa saat
  19. Mengerti konsep sederhana (misal: atas/bawah, panas/dingin, kecil/besar, buka/tutup)
  20. Terlibat dalam permainan yang membutuhkan konsentrasi (memilah, memasangkan).

Usia 3-4 tahun:

  1. Naik turun tangga dengan kaki kiri dan kanan bergantian
  2. Mencoba mencontohkan beragam bentuk yang tergambar (lingkaran, kotak, segitiga, segiempat, oval)
  3. Memasang dan mencopot sepatu
  4. Menghitung satu sampai empat benda yang sama
  5. Mengulang sedikitnya tiga benda terakhir yang berurutan disebutkan
  6. Mampu menceritakan kembali atau mengingat cerita sederhana atau pengalaman
  7. Bermain permainan individu sederhana di antara teman lain
  8. Mencopot kancing baju sendiri
  9. Mengendarari sepeda roda tiga (koordinasi tampak baik)
  10. Berbicara kalimat pendek dan sederhana
  11. Tampak mengerti aturan bermain
  12. Bermain lompat kaki
  13. Memotong dengan arahan
  14. Mengenal delapan warna dasar
  15. Memecahkan persoalan (tenggelam/mengambang, mur/baut, bermain puzzle)
  16. Mengenal bentuk lingkaran, kotak, segitiga, segiempat dan oval
  17. Mengenal beberapa huruf abjad
  18. Mampu berjalan seimbang pada titian sempit
  19. Menyelesaikan perintah sederhana
  20. Melompat satu kaki dengan teknik yang indah sempurna.

Usia 4-5 tahun:

  1. Latihan buang air
  2. Makan dengan sendok dan garpu
  3. Duduk tenang untuk beberapa saat
  4. Senang bila mendengarkan cerita
  5. Memakai jaket sendiri tanpa bantuan
  6. Mampu mengancingkan jaket sendiri
  7. Mampu memakai sepatu sendiri dengan benar
  8. Membereskan mainan bila diminta
  9. Senang berada di antara orang lain
  10. Memperhatikan dan merawat barangnya sendiri
  11. Berbagi dan mau bergiliran
  12. Biasanya menerima apa yang dibatasi oleh orang tua
  13. Berbagi perhatian orang tua dengan saudara
  14. Mengikuti petunjuk sederhana
  15. Berkunjung ke kerabat orang lain tanpa orang tua untuk waktu yang pendek
  16. Mampu menyebut nama lengkap dirinya
  17. Mengerti konsep sederhana (besar/kecil, keluar/masuk, naik/turun, buka/tutup)
  18. Mengenali benda yang biasa di temui di rumah
  19. Memperlihatkan kesan diri yang positif
  20. Bertanya untuk memperoleh informasi
  21. Mengerti konsep angka (1-5)
  22. Mengenali suara-suara yang biasa ada di rumah
  23. Menceritakan pengalamannya
  24. Menyebutkan kegunaan benda yang biasa ditemui di rumah, misalnya jaket dipakai, pisang dimakan
  25. Mengenali delapan warna dasar
  26. Mengenali huruf dan suara
  27. Mampu mengingat/mengulang dua atau tiga benda berlainan dalam konsep yang sama, misalnya (5,7,9), (merah, biru, kuning), (g,b,d)
  28. Melompat dua atau tiga kali dengan satu kaki dalam satu garis
  29. Mampu menangkap bola yang besar
  30. Mampu berlari atau berhenti dengan perintah
  31. Mampu menggambar gambar sederhana
  32. Mampu membedakan bentuk-bentuk yang berlainan
  33. Mampu mencontohkan gambar lingkaran atau kotak
  34. Berdiskusi cerita yang didengar atau dilihat di TV
  35. Memilih objek atau gambar yang hampir sama
  36. Memperlihatkan keinginannya untuk bersekolah.